Mada dayo!
Satu waktu tiba si sayap lemas
Tanyanya berdenyut cemas
Sudahkah kau berkemas?
Kumau kan tak membalas
Sayup kulambai tangan
Usir sayap lembut perlahan
Karna ku hendak ditelan
Masuk bumi tak berjalan
Mada Dayo!
Seru ku pada si loyo
Sambil duduk dengan sembrono
Tanyanya berdenyut cemas
Sudahkah kau berkemas?
Kumau kan tak membalas
Sayup kulambai tangan
Usir sayap lembut perlahan
Karna ku hendak ditelan
Masuk bumi tak berjalan
Mada Dayo!
Seru ku pada si loyo
Sambil duduk dengan sembrono
Bekal yang Membuat Congkak
Jumat lalu, saya diundang oleh Pak Hadi Pratomo, seorang dosen Universitas Indonesia untuk sharing tentang remaja dan media. Bangga dan terasa gagah juga, akhirnya saya yang pernah tidak naik kelas bisa berbicara di depan para mahasiswa S2 Universitas Indonesia. Saya pun dengan senang hati tidak masuk sekolah untuk pergi ke sana.
Saya tiba disana sekitar jam setengah sebelas. Kampusnya besar, saya membayangkan betapa sulitnya mencari kacamata saya kalau hilang disitu. Butuh waktu untuk mencari kampus yang disebutkan oleh Pak Hadi. Setelah berputar putar akhirnya saya menemukan gedungnya.
Saya dibawa ke ruangan, ruangan apa ya itu? Yang pasti kalau di sekolah, ruangan itu adalah ruang guru. Setiap dosen mempunyai slot masing masing, tidak besar, namun cukup nyaman kelihatannya. Di depan sekat sekat itu terpampang nama nama dosen. Saya diperkenalkan oleh seorang dosen yang kebetulan lewat disana.
Pak Hadi menceritakan apa saja yang akan dilakukan nanti. Intinya saya hanya perlu sharing tentang proses saya dalam pembuatan film pendek selama ini, dan juga tentang pandangan pandangan saya soal remaja dan media. Ah, mudah bagi saya, tapi tidak tahu nanti kalau sudah menghadapi langsung. Soalnya biasanya saya seperti itu, saat sudah harus berbicara didepan orang banyak, kata kata yang sudah dirancang dan disusun dengan seksama, menjadi berantakan, bahkan hilang.
Setelah berbincang sebentar dengan Pak Hadi, saya dibawa menuju ke ruangan multimedia. Ruangannya seperti kamar kakek saya, pengap dan penuh debu, pokoknya terlihat sekali bahwa usianya jauh diatas saya. Ruangan itu lumayan lengkap dengan peralatan peralatan, dari fotografi, desain, sampai sinematografi. Tapi cukup tua, lebih tua dari saya sepertinya. Saya melihat set lighting, monitor, komputer editing, kamar gelap, sampai can seluloid. Pengurus ruangan dan Pak Hadi bergantian menjelaskannya.
Sudah jam sepuluh ketika saya menjadi turis di ruangan pengap itu, saatnya pak Hadi dan saya masuk ke kelas. Kamipun langsung menuju ke kelas yang terletak di gedung yang lain. Saya melintasi kebun yang memiliki banyak pohon yang rindang, rasanya teduh sekali disana. Gedung gedungnya juga terlihat sekali keriput tuanya.
Pak Hadi masuk ke kelas duluan, saya kemudian dipersilahkan masuk dan duduk di depan kelas. Saya kaget sekali, 95% mahasiswa adalah perempuan berjilbab. Tapi tasa kaget itu sekejap berubah menjadi rasa penasaran yang begitu besar. Penasaran akan komentar mereka tentang film ‘Indonesia Bukan Negara Islam’. Apakah mereka akan berkomentar sama seperti manusia manusia di Youtube yang ngomongnya lebih asal daripada orang orang terasal. Dugaan saya waktu itu tidak, wajah wajahnya sangat terpelajar, tapi tidak tahu juga.
Pak Hadi kemudian memberikan sambutannya. Lucu sekali buat saya, mereka (mahasiswa), usianya nyaris sama dengan usia papi mami saya, tapi mereka sama seperti saya, bersama sama memberikan salam, seperti yang dilakukan oleh murid SMA sampai TK.
Sambutan Pak Hadi tentang saya agak hiperbola, tapi saya senang dan tersipu sipu, tentunya. Saya sibuk mengurus komputer dan proyektor yang seperti biasa, selalu ada saja masalah sebelum pemutaran film. Pelajaran penting, jangan pernah bawa file MOV saat ingin memutar film, dan jangan juga membawa DVD, karena tak semua komputer punya DVD Player. Beruntung di Ipod saya tersimpan file AVInya ‘Indonesia Bukan Negara Islam’, jadi akhirnya tetap bisa diputar.
Rencananya, ‘Detensi’ diputar pertama, untuk perkenalan tentang remaja dalam film. Tapi DVDnya tak bisa diputar, karena ya itu tadi, tidak semua komputer punya DVD Player. Akhirnya ‘Indonesia Bukan Negara Islam’ diputar. Lampu dimatikan. Sesekali saya menengok wajah dibalik jilbab itu, menunggu reaksi spontan mereka, tapi semuanya terpaku pada layar.
Lagu Canon in D Major yang menutup film itu perlahan menjadi sayup, lampu dinyalakan kembali. Dan kemudian giliran saya menceritakan proses saya dalam membuat film itu. Sebelumnya saya sudah pernah menceritakan proses film ini beberapa kali, jadi masih agak hafal apa saja yang akan saya bicarakan. Saya berbicara cukup lancar saat itu, perlahan degup jantung saya normal kembali, saya sudah merasa nyaman.
Kemudian, Pak Hadi membiarkan terjadinya diskusi, para Mahasiswa itu mulai engajukan pertanyaan. Rata rata pertanyaannya sangat standard dan sudah sering saya dengar, jadi tak begitu sulit menjawabnya. Tapi ada satu pertanyaannya tentang sudut pandang yang saya pakai, pertanyaan itu baru pertama kali saya dengar, ia bertanya mengapa saya memakai sudut pandang dari mereka? Mengapa tidak dari murid pesantren, misalnya?
Saya jawab bahwa saya memang ingin mengambil dari sudut pandang yang seperti itu, dari orang orang yang ketika menginjakan langkah kaki selangkah keluar, mereka menjadi mayoritas , tapi bila mereka mundur kembali kebelakang, mereka menjadi minoritas. Artinya, mereka sangat sering merasakan menjadi mayoritas dan minoritas di saat yang berdekatan. Itulah sudut pandang yang ingin saya ambil. Adakah bedanya dengan yang lain? Atau minimal dengan para anggota FPI?
Kebanyakan mengangguk atas jawaban saya. Lega. Kemudian berlanjut dengan pertanyaan pertanyaan yang lain, dari masalah film sampai kehidupan sehari hari. Tak begitu sulit. Dan dugaan saya benar, mereka tak seperti orang orang forum yang berkomentar seenak dahinya saja.
Dan akhirnya, DVD ‘Detensi’ bisa diputar. Lampu kembali dimatikan. Penonton ‘Detensi’ biasanya diam dan hanya tertawa kecil saja. Tapi kemarin, banyak yang tertawa keras, saya juga heran kenapa bisa begitu. Tapi ya saya senang senang saja.
Diskusi tentang ‘Detensi’ jauh lebih ringan lagi. Kebanyakan cuman mengenai latar belakang belakang pembuatannya. Saya seperti curhat saja saat itu. Curhat tentang kerisauan saya akan sekolah saya. Sekolah saya yang tak pernah menghiraukan sisi non akademis seperti seni.
Saya banyak cerita tentang sekolah. Saya juga bercerita tentang protes saya terhadap kegiatan Ondel Ondel dan Pencak Silat waktu Pameran Pendidikan kemarin, sampai saya dilarang hadir di pameran pendidikan itu. Cerita juga berlanjut ke pengalaman saya yang ingin memutar film di sekolah, tapi begitu sulit, dengan alasan program film yang kurang mendidik. Puas rasanya, seperti berteriak setelah 3 tahun tidak berteriak. Lega. Setidaknya ada yang tahu.
Pertanyaan terakhir menanyakan pandangan saya soal perbedaan impact film festival dan film komersil terhadap film remaja. Saya sebenarnya tak tahu banyak soal itu, hanya tahu dari beberapa tulisan dan wawancara yang saya baca. Waktu itu saya pernah membaca wawancara Rumah Film dengan Joko Anwar dan Edwin tentang itu. Dari situlah jawabannya saya salin.
Pak Hadi menutup diskusi itu, para mahasiswa mulai berdiri dan meninggalkan kelas. Beberapa mahasiswa menyalami saya. Kemudian saya pun berpamitan dengan Pak Hadi dan yang lainnya.
Bertambahlah pengalaman baru dalam proses panjang pembelajaran saya. Setidaknya, saya merasa berbekal lebih dibandingkan teman teman yang kini telah masuk kampus, terutama kampus seni. Saya merasa lebih pantas dari beberapa diantara mereka. Mau bilang saya sombong, terserah.
Saya tiba disana sekitar jam setengah sebelas. Kampusnya besar, saya membayangkan betapa sulitnya mencari kacamata saya kalau hilang disitu. Butuh waktu untuk mencari kampus yang disebutkan oleh Pak Hadi. Setelah berputar putar akhirnya saya menemukan gedungnya.
Saya dibawa ke ruangan, ruangan apa ya itu? Yang pasti kalau di sekolah, ruangan itu adalah ruang guru. Setiap dosen mempunyai slot masing masing, tidak besar, namun cukup nyaman kelihatannya. Di depan sekat sekat itu terpampang nama nama dosen. Saya diperkenalkan oleh seorang dosen yang kebetulan lewat disana.
Pak Hadi menceritakan apa saja yang akan dilakukan nanti. Intinya saya hanya perlu sharing tentang proses saya dalam pembuatan film pendek selama ini, dan juga tentang pandangan pandangan saya soal remaja dan media. Ah, mudah bagi saya, tapi tidak tahu nanti kalau sudah menghadapi langsung. Soalnya biasanya saya seperti itu, saat sudah harus berbicara didepan orang banyak, kata kata yang sudah dirancang dan disusun dengan seksama, menjadi berantakan, bahkan hilang.
Setelah berbincang sebentar dengan Pak Hadi, saya dibawa menuju ke ruangan multimedia. Ruangannya seperti kamar kakek saya, pengap dan penuh debu, pokoknya terlihat sekali bahwa usianya jauh diatas saya. Ruangan itu lumayan lengkap dengan peralatan peralatan, dari fotografi, desain, sampai sinematografi. Tapi cukup tua, lebih tua dari saya sepertinya. Saya melihat set lighting, monitor, komputer editing, kamar gelap, sampai can seluloid. Pengurus ruangan dan Pak Hadi bergantian menjelaskannya.
Sudah jam sepuluh ketika saya menjadi turis di ruangan pengap itu, saatnya pak Hadi dan saya masuk ke kelas. Kamipun langsung menuju ke kelas yang terletak di gedung yang lain. Saya melintasi kebun yang memiliki banyak pohon yang rindang, rasanya teduh sekali disana. Gedung gedungnya juga terlihat sekali keriput tuanya.
Pak Hadi masuk ke kelas duluan, saya kemudian dipersilahkan masuk dan duduk di depan kelas. Saya kaget sekali, 95% mahasiswa adalah perempuan berjilbab. Tapi tasa kaget itu sekejap berubah menjadi rasa penasaran yang begitu besar. Penasaran akan komentar mereka tentang film ‘Indonesia Bukan Negara Islam’. Apakah mereka akan berkomentar sama seperti manusia manusia di Youtube yang ngomongnya lebih asal daripada orang orang terasal. Dugaan saya waktu itu tidak, wajah wajahnya sangat terpelajar, tapi tidak tahu juga.
Pak Hadi kemudian memberikan sambutannya. Lucu sekali buat saya, mereka (mahasiswa), usianya nyaris sama dengan usia papi mami saya, tapi mereka sama seperti saya, bersama sama memberikan salam, seperti yang dilakukan oleh murid SMA sampai TK.
Sambutan Pak Hadi tentang saya agak hiperbola, tapi saya senang dan tersipu sipu, tentunya. Saya sibuk mengurus komputer dan proyektor yang seperti biasa, selalu ada saja masalah sebelum pemutaran film. Pelajaran penting, jangan pernah bawa file MOV saat ingin memutar film, dan jangan juga membawa DVD, karena tak semua komputer punya DVD Player. Beruntung di Ipod saya tersimpan file AVInya ‘Indonesia Bukan Negara Islam’, jadi akhirnya tetap bisa diputar.
Rencananya, ‘Detensi’ diputar pertama, untuk perkenalan tentang remaja dalam film. Tapi DVDnya tak bisa diputar, karena ya itu tadi, tidak semua komputer punya DVD Player. Akhirnya ‘Indonesia Bukan Negara Islam’ diputar. Lampu dimatikan. Sesekali saya menengok wajah dibalik jilbab itu, menunggu reaksi spontan mereka, tapi semuanya terpaku pada layar.
Lagu Canon in D Major yang menutup film itu perlahan menjadi sayup, lampu dinyalakan kembali. Dan kemudian giliran saya menceritakan proses saya dalam membuat film itu. Sebelumnya saya sudah pernah menceritakan proses film ini beberapa kali, jadi masih agak hafal apa saja yang akan saya bicarakan. Saya berbicara cukup lancar saat itu, perlahan degup jantung saya normal kembali, saya sudah merasa nyaman.
Kemudian, Pak Hadi membiarkan terjadinya diskusi, para Mahasiswa itu mulai engajukan pertanyaan. Rata rata pertanyaannya sangat standard dan sudah sering saya dengar, jadi tak begitu sulit menjawabnya. Tapi ada satu pertanyaannya tentang sudut pandang yang saya pakai, pertanyaan itu baru pertama kali saya dengar, ia bertanya mengapa saya memakai sudut pandang dari mereka? Mengapa tidak dari murid pesantren, misalnya?
Saya jawab bahwa saya memang ingin mengambil dari sudut pandang yang seperti itu, dari orang orang yang ketika menginjakan langkah kaki selangkah keluar, mereka menjadi mayoritas , tapi bila mereka mundur kembali kebelakang, mereka menjadi minoritas. Artinya, mereka sangat sering merasakan menjadi mayoritas dan minoritas di saat yang berdekatan. Itulah sudut pandang yang ingin saya ambil. Adakah bedanya dengan yang lain? Atau minimal dengan para anggota FPI?
Kebanyakan mengangguk atas jawaban saya. Lega. Kemudian berlanjut dengan pertanyaan pertanyaan yang lain, dari masalah film sampai kehidupan sehari hari. Tak begitu sulit. Dan dugaan saya benar, mereka tak seperti orang orang forum yang berkomentar seenak dahinya saja.
Dan akhirnya, DVD ‘Detensi’ bisa diputar. Lampu kembali dimatikan. Penonton ‘Detensi’ biasanya diam dan hanya tertawa kecil saja. Tapi kemarin, banyak yang tertawa keras, saya juga heran kenapa bisa begitu. Tapi ya saya senang senang saja.
Diskusi tentang ‘Detensi’ jauh lebih ringan lagi. Kebanyakan cuman mengenai latar belakang belakang pembuatannya. Saya seperti curhat saja saat itu. Curhat tentang kerisauan saya akan sekolah saya. Sekolah saya yang tak pernah menghiraukan sisi non akademis seperti seni.
Saya banyak cerita tentang sekolah. Saya juga bercerita tentang protes saya terhadap kegiatan Ondel Ondel dan Pencak Silat waktu Pameran Pendidikan kemarin, sampai saya dilarang hadir di pameran pendidikan itu. Cerita juga berlanjut ke pengalaman saya yang ingin memutar film di sekolah, tapi begitu sulit, dengan alasan program film yang kurang mendidik. Puas rasanya, seperti berteriak setelah 3 tahun tidak berteriak. Lega. Setidaknya ada yang tahu.
Pertanyaan terakhir menanyakan pandangan saya soal perbedaan impact film festival dan film komersil terhadap film remaja. Saya sebenarnya tak tahu banyak soal itu, hanya tahu dari beberapa tulisan dan wawancara yang saya baca. Waktu itu saya pernah membaca wawancara Rumah Film dengan Joko Anwar dan Edwin tentang itu. Dari situlah jawabannya saya salin.
Pak Hadi menutup diskusi itu, para mahasiswa mulai berdiri dan meninggalkan kelas. Beberapa mahasiswa menyalami saya. Kemudian saya pun berpamitan dengan Pak Hadi dan yang lainnya.
Bertambahlah pengalaman baru dalam proses panjang pembelajaran saya. Setidaknya, saya merasa berbekal lebih dibandingkan teman teman yang kini telah masuk kampus, terutama kampus seni. Saya merasa lebih pantas dari beberapa diantara mereka. Mau bilang saya sombong, terserah.
Sela Sela Dinding Sekolah - Film Pendek
Diposkan oleh
Jason Iskandar
on September 18, 2009
/
Comments: (0)
Sela Sela Dinding Sekolah
Gambar Darurat | Fiksi | 10 Menit
Seorang siswa berusaha keluar dari kelasnya karena terkunci. Kemudian ia menyadari bahwa nyaris tak ada sela untuknya.
Film ini dibuat dalam rangka pemenuhan nilai ulangan harian Bahasa Indonesia, jurusan ilmu pengetahuan sosial, Kolese Kanisius, Jakarta.
Pemeran:
Made Andre sebagai Made
Jason Iskandar sebagai Siswa Ekstrakulikuler #1
Jason Suteja sebagai Siswa Ekstrakulikuler #2
Steve Edpin sebagai Siswa Remedial #1
Sean Rich sebagai Siswa Remedial #2
Melvin Poernadi sebagai Siswa Ketakutan #1
Vivensius sebagai Siswa Ketakutan #2
Kevin Dana sebagai Siswa Kelas 1
Rizky Karo Karo sebagai Petugas Pengunci Pintu
Kolese Kanisius dan Pendidikan Seninya
Diposkan oleh
Jason Iskandar
on September 03, 2009
/
Comments: (0)
Seni sebagai Kewajiban
“Kolese Kanisius tidak hanya mengedepankan sisi akademis saja, tetapi juga ikut mengembangkan sisi non-akademis, misalnya dengan kesenian. Pendidikan kesenian merupakan hal yang penting untuk dipelajari di sekolah”, itulah kata kata yang kerap muncul dari mulut mantan direktur Kolese Kanisius, Pater Baskoro Poedjinogroho.
Kata kata itu sudah tak asing lagi untuk saya. Dalam beberapa kesempatan, ia selalu mengutarakan hal itu. Misalnya pasca suksesnya pentas tari kecak pada Canisius Education Fair 2008 lalu, didepan para wartawan yang hadir, ia mengucapkannya. Atau masih segar dalam ingatan saya, setelah konser launching album perdana CWE (Canisius Wind Ensemble), di depan wartawan O Channel, ia lagi lagi mengatakannya.
Lalu, apakah yang beliau sebutkan adalah sesuatu yang benar benar ada? Ya. Saya harus jujur, hal itu benar benar ada. Namun, seberapa besar kadarnya? Dan seperti apa cara yang diterapkan untuk pendidikan seni itu? Itulah yang selalu menjadi kegelisahan saya sebagai siswa.
Tak dapat dipungkiri, pentas Tari Kecak kolosal tahun lalu dapat dikatakan sukses, dan tahun ini sekolah pun kembali hendak mengulangnya dengan acara Pencak Silat dan Ondel Ondel kolosal. Mungkin inilah yang saya khawatirkan. Perkataan Pater Baskoro tadi benar benar dilakukan, namun dengan caranya sendiri, mengincar kualitas juga kuantitas, terkadang tangan besi.
Inilah kali ketiga, sekolah membuat acara yang melibatkan ratusan siswa Kanisius sebagai pelaku utama, dipertontonkan di muka umum. Sayangnya sekolah masih melakukannya tanpa adanya dialog atau komunikasi dengan para siswa (atau minimal OSIS) terlebih dahulu. Akibatnya, seluruh siswa wajib mengikuti semua kegiatan ini. Ada yang sukarela, ada yang terpaksa. Inikah pendidikan seni?
Saya tak ingin menyalahkan siapapun. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk berbicara baik baik dengan pihak sekolah, untuk meringankan kegiatan ini, agar seni gerak dalam pencak silat dan seni konfigurasi dalam ondel ondel tak hanya dilakukan sebagai sebuah kewajiban, tapi sebagai sebuah seni yang bisa dinikmati pelakunya dengan sukarela. Namun pihak sekolah seperti tutup telinga atas apa yang telah saya usulkan. Malahan, saya dianggap aneh dan dicap sebagai troublemaker. Saya tidak diperbolehkan menghadiri Pameran Pendidikan tahun ini.
Pernah saya mengumpulkan petisi berupa masukan masukan dan tanda tangan dari siswa yang tidak menyetujui cara sekolah menjalankan kegiatan ini. Kebanyakan dari mereka tidak mempermasalahkan kegiatan pencak silat dan ondel ondel. Mereka tidak menyukai cara sekolah. Cara sekolah yang tak lagi menjadikan seni sebagai kebebasan para pelakunya, sebagai sesuatu yang dilakukan dengan sukarela, tapi sebagai kewajiban.
Inilah salah satu kerisauan saya akan pendidikan seni di Kolese Kanisius. Banyak kekurangan yang harus dibenahi oleh Kolese Kanisius agar kata kata Pater Baskoro tadi tak hanya sebuah omong kosong.
Kurangnya Apresiasi
Sebagai pembuat karya, saya sering merasa dianak tirikan. Lihat betapa megahnya hari apresiasi bagi para siswa siswa yang berprestasi di bidang akademis. Orang tua mereka datang, mengenakan kostum yang berkilau, jas yang rapih, dan senyuman yang menyenangkan. Merekalah orang orang cerdas yang memiliki nilai rapot rata rata diatas 85. Menyedihkan bila dibandingkan dengan mereka mereka yang dengan karya karyanya telah memenangkan kompetisi, baik di Jakarta, maupun Nasional.
Satu satunya apresiasi bagi kami adalah secarik kertas kusam, yang ditempelkan didepan ruangan sub moderator, bertuliskan kalimat proficiat seadanya. Kertas itulah kertas kebanggan kami, kertas apresiasi dari sekolah. Tak ada jas, tak ada kostum yang berkilau, walau ada sedikit senyuman yang menyenangkan.
Lagi lagi saya tak hendak menyalahkan itu. Saya sedang memberikan kontras. Tentang penghargaan sisi akademis dan non akademis yang timpang. Jauh dari yang digembar - gemborkan publik tentang Kolese Kanisius, jauh dari yang sering dibanggakan mantan kepala sekolah saya didepan wajah wajah orang tua murid yang bersahaja.
Ternyata hal ini tak hanya terjadi di saat ini. “Banyak orang yang terlalu fanatik dengan CC. Memang, CC itu sekolah yang baik dan selektif dalam memilih siswanya. Tapi kesan gue waktu itu, gue gak merasa CC membantu banyak dalam karir gue sekarang. Dulu, bidang seni dan musik gak mendapat support dari sekolah. Makanya gue kurang bangga sebagai alumni CC”, begitulah kata Lawrence R. Aswin, seorang music engineer, yang merupakan alumni Kanisius tahun 1998. “Yang bikin gue seperti ini bukan CC, banyak dari mereka (alumni Kolese Kanisius lainnya) gak berani tampil beda, mereka lebih memilih untuk hidup dengan jas, celana bahan, dan sepatu yang bagus”, lanjutnya seperti yang ditulis dalam Canipress edisi 64.
Awalnya saya kurang senang dengan tulisan itu, terlihat sombong, angkuh, dan arogan. Namun, setelah mengalami sendiri, saya baru menyadari, hal yang dikatakannya benar. Apapun yang berhubungan dengan karya, harus saya lakukan sendiri, tidak ada dukungan pihak sekolah.
Pernah suatu ketika saya diajak bekerja sama dengan CCF Jakarta untuk mengadakan pemutaran film di sekolah. Tapi pihak sekolah meminta mengganti program filmnya dengan alasan film film yang ditampilkan kurang mendidik. Pernah juga saya ingin mengadakan diskusi film dan foto, tapi tak mendapat ijin untuk menggunakan ruang audio visual, akhirnya saya harus meminjam laptop, proyektor, dan speaker dari guru guru. Syukurlah, masih ada guru yang peduli.
Apresiasi seni adalah hal yang langka disekolah saya. Waktu itu pernah sekali diadakan hari apresiasi yang menggantikan kegiatan classmeeting, namun bisa dihitung jumlah peserta yang benar benar mengikuti kegiatan tersebut dengan serius. Itulah, kemudian saya jadi berpikir, jangan jangan memang siswanya yang tidak memiliki ketertarikan mengikuti dan mengapresiasi kegiatan seni.
Pelajaran Bersama
Selain pengalaman hari apresiasi itu, saya pernah beberapa kali mengajak teman teman untuk ikut menghadiri pemutaran film film saya di berbagai tempat. Tapi kenyataanya, yang datang dapat dihitung dengan jari .
Saya lagi lagi tak menyalahkan mereka. Mungkin inilah pelajaran bagi kita semua, termasuk saya, bahwa jika memang kita tidak menghendaki pemaksaan dari pihak sekolah untuk mengikuti kegiatan seni, ada baiknya kita yang membangun semangat untuk mencintai dan mengapresiasi seni. Tanpa pemaksaan, tanpa kewajiban, dan tanpa ancaman.
Seharusnya sekolah dapat belajar dari pengalaman lalu. Sudah banyak yang bisa dipelajari. Saya masih berharap bahwa kedepannya, pihak sekolah menjalin komunikasi terlebih dahulu dengan pihak siswa, atau dalam hal ini diwakilkan oleh OSIS, sebelum membuat keputusan. Apalagi keputusan tersebut menyangkut ratusan siswa, yang sebenarnya tak berdaya dengan pihak sekolah. Ditambah keputusan itu menyangkut seni, yang tak dapat dipaksakan begitu saja sebagai kewajiban.
Semoga di kedepannya, lebih banyak lagi wadah apresiasi dari pihak sekolah bagi para siswa yang aktif membuat karya di minatnya masing masing. Dan para siswa juga dapat membangun semangat untuk berkarya dan mengapresiasi karya orang lain, sehingga tak diperlukan lagi hal itu dijadikan sebagai kewajiban dari pihak sekolah.
Seperti kata Leonardo Da Vinci, “Where the spirit does not work with the hand there is no art”. Kitalah yang bisa membangun semangat untuk terus berkarya serta mengapresiasi, bukan lewat kewajiban dari sekolah. Berhentilah menjadikan seni sebagai kewajiban tanpa pilihan.
Sikap Terhadap Kegiatan Pencak Silat dan Ondel Ondel
Sudah kali ketiga,sekolah memaksa kami untuk mengikuti kegiatan. Dua kegiatan yang lalu adalah kegiatan tari kecak yang juga merupakan keputusan sepihak. Tidak ada satupun komunikasi antara pihak sekolah dan siswanya. Yang ada hanya kata kata setengah ancaman dari pihak sekolah,'kalau kamu gak mau dididik disini, silahkan tinggalkan sekolah". Dan seakan menutup mata dari pengalaman lalu yang menuai ketidaksukaan dari siswa, sekolah kali ini mengulang kesalahannya, dan kali ini jauh lebih ekstrem. Murid harus mengikuti kegiatan pencak silat dan membuat ondel ondel sendiri.
Saya tidak pernah mempermasalahkan kegiatan Pencak Silat dan Ondel-Ondel ini. Yang tidak saya sukai adalah bagaimana cara sekolah memaksakan kehendaknya dalam menyuruh kami melakukan kegiatan tersebut. Parahnya lagi,kegiatan yang dipaksakan ini adalah sebuah kegiatan seni. Sebagai seorang penikmat dan pembuat karya seni, saya merasa kecewa dengan sikap sekolah yang dengan seenaknya menghilangkan sebuah nilai penting dalam seni, yaitu kebebasan. Seperti kata Arief Budiman, seni adalah sebuah tanggapan terhadap lingkungan sekitar senimannya. Seni adalah kemandirian untuk berpendapat.
Amat sakit bagi saya apabila saya melakukan sebuah kegiatan seni,namun hati dan jiwa saya tak ada disana. Rasanya seperti meminum sebuah es jeruk tanpa sari jeruk. Kosong. Hambar.
Saya rasa dalam hal ini,diperlukan lagi sebuah komunikasi yang harmonis antara pihak sekolah dan siswa sebagai pelaku kegiatan tersebut. Komunikasi di sekolah ini ibarat baut yang berkarat dimana mana, tak mampu berputar sebagai mana mestinya. Sekolah yang bijaksana dan demokratis tentunya mau menjalankan komunikasi dengan siswanya. Bukan dengan ancaman dan paksaan seperti yang selama ini saya rasakan.
Sudah ketiga kali hal seperti ini terjadi, namun pihak sekolah masih tak mau merefleksikan (seperti terpampang di visi dan misi SMA Kanisius) kejadian yang lalu. Dua kegiatan lalu telah menuai banyak protes dari para murid dikarenakan tidak adanya komunikasi dan persetujuan dari para murid sebagai pelaku utama. Namun sekolah lagi lagi tutup telinga dengan hal ini.
Sebelum menjadi sebuah kegiatan, baiknya usulan kegiatan ini disampaikan dan disosialisasikan kepada para murid. Mengapa harus memaksa kami semua untuk ikut serta? Apakah ini semua hanya untuk mengejar kesan kolosal? Bukankah sebuah kegiatan menjadi lebih indah bila dilakukan dengan sukarela walaupun hanya sedikit?
Belum lagi, tarian ondel ondel yang memaksa saya dan orang tua saya untuk membuat atributnya. Lagi lagi kegiatan ini dilakukan tanpa adanya komunikasi dengan kami saat masih berupa usulan. Ini sudah merupakan hal yang sinting buat saya. Disaat kami sebagai kelas XII dapat fokus mengikuti kegiatan Education Fair, perhatian kami harus terpecah dengan kegiatan ini.
Bukan kali ini saya kecewa dengan Kolese Kanisius. Sekolah yang terkenal begitu membanggakan, sekolah yang begitu terkenal menjunjung tinggi kebebasan.
Sudahlah, saya sudah begitu kecewa.
Saya tidak pernah mempermasalahkan kegiatan Pencak Silat dan Ondel-Ondel ini. Yang tidak saya sukai adalah bagaimana cara sekolah memaksakan kehendaknya dalam menyuruh kami melakukan kegiatan tersebut. Parahnya lagi,kegiatan yang dipaksakan ini adalah sebuah kegiatan seni. Sebagai seorang penikmat dan pembuat karya seni, saya merasa kecewa dengan sikap sekolah yang dengan seenaknya menghilangkan sebuah nilai penting dalam seni, yaitu kebebasan. Seperti kata Arief Budiman, seni adalah sebuah tanggapan terhadap lingkungan sekitar senimannya. Seni adalah kemandirian untuk berpendapat.
Amat sakit bagi saya apabila saya melakukan sebuah kegiatan seni,namun hati dan jiwa saya tak ada disana. Rasanya seperti meminum sebuah es jeruk tanpa sari jeruk. Kosong. Hambar.
Saya rasa dalam hal ini,diperlukan lagi sebuah komunikasi yang harmonis antara pihak sekolah dan siswa sebagai pelaku kegiatan tersebut. Komunikasi di sekolah ini ibarat baut yang berkarat dimana mana, tak mampu berputar sebagai mana mestinya. Sekolah yang bijaksana dan demokratis tentunya mau menjalankan komunikasi dengan siswanya. Bukan dengan ancaman dan paksaan seperti yang selama ini saya rasakan.
Sudah ketiga kali hal seperti ini terjadi, namun pihak sekolah masih tak mau merefleksikan (seperti terpampang di visi dan misi SMA Kanisius) kejadian yang lalu. Dua kegiatan lalu telah menuai banyak protes dari para murid dikarenakan tidak adanya komunikasi dan persetujuan dari para murid sebagai pelaku utama. Namun sekolah lagi lagi tutup telinga dengan hal ini.
Sebelum menjadi sebuah kegiatan, baiknya usulan kegiatan ini disampaikan dan disosialisasikan kepada para murid. Mengapa harus memaksa kami semua untuk ikut serta? Apakah ini semua hanya untuk mengejar kesan kolosal? Bukankah sebuah kegiatan menjadi lebih indah bila dilakukan dengan sukarela walaupun hanya sedikit?
Belum lagi, tarian ondel ondel yang memaksa saya dan orang tua saya untuk membuat atributnya. Lagi lagi kegiatan ini dilakukan tanpa adanya komunikasi dengan kami saat masih berupa usulan. Ini sudah merupakan hal yang sinting buat saya. Disaat kami sebagai kelas XII dapat fokus mengikuti kegiatan Education Fair, perhatian kami harus terpecah dengan kegiatan ini.
Bukan kali ini saya kecewa dengan Kolese Kanisius. Sekolah yang terkenal begitu membanggakan, sekolah yang begitu terkenal menjunjung tinggi kebebasan.
Sudahlah, saya sudah begitu kecewa.
Blog Teman
- Aditya Kristanto
- Ahsan Andrian
- Albert Hutama
- Angela Astrid Rahman
- Aron Prambudi
- Bertania Lukman
- Budi Prasetyo
- Dimas Jayasrana
- Evelyn Desvania
- Florence Giovani
- Florensha Ivyana
- Gadis
- Geni Maharani
- Ignatius Primadi
- Kevin Adinata
- Kiki Febriyanti
- Lidya Kosasih
- Lulu Ratna
- Marco Atmodjo
- Mereditha Kristianti
- Nico Rahardian
- Nidya Ratnasari
- Nydia Angelina
- Riri Riza
- Ucu Agustin
- Veronica Kusuma
- Yovita Ayu Liwanuru
